Prasmanan Agama

Tinggalkan komentar

10 April 2008 oleh fahirohim

Oleh Hamid Basyaib

Beberapa waktu lalu majalah Der Spiegel Jerman membuat laporan tentang perkembangan agama di Barat (Eropa dan Amerika). Laporan itu antara lain mengatakan agama di Barat pada dasarnya tak mengalami kemunduran, tapi bermetamorfosa menjadi lebih individualistik dan makin kurang ketergantungannya pada sistem gerejawi dan kependetaan.

Sejarawan Prancis, Paul Veyne, menyifati metamorfosis itu sebagai pergeseran dari pola kepenganutan agama sebagai menu lengkap yang utuh menjadi à la carte atau prasmanan. Di situ, setiap orang berhak memilih Tuhan atau sekte keagamaan yang paling mereka minati. Dengan kata lain, kecenderungan beragama masyarakat Barat makin menyerupai penyikapan terhadap hidangan makanan prasmanan. Secara primordial, agama bagi tiap-tiap individu adalah prasmanan. Bahkan, setelah menu baku diracik para koki agama, unsur-unsur prasmanan itu mustahil hilang. Sejak beberapa tahun terakhir, orang-orang mulai makin terbuka menyatakan keprasmanan itu bagi diri dan kelompoknya. Cover story Newsweek beberapa tahun lalu mengungkapkan di Amerika, tiap hari muncul agama baru, dianut orang per orang. Dalam kenyataannya, di India pun ada ribuan agama. Hinduisme memang memungkinkan sektarianisasi semacam itu dengan damai. Namun, belakangan muncul kelompok-kelompok yang berusaha memurnikan Hinduisme -tentu dengan asumsi yang murni itu ada dan pemurnian adalah mungkin. Mereka membuat partai politik. Tapi, proses individualisasi (atau sektarianisasi) beragama tampaknya jalan terus. Di sana -dan mestinya juga di tempat lain-membikin agama tampak gampang sekali: memelihara jenggot panjang, memakai jubah agak unik, memberi petuah agak aneh (dimulai dengan kritik terhadap ajaran-ajaran lama yang sudah mapan tanpa didekonstruksi habis agar tak digeruduk oleh macam-macam front pembela Tuhan). Rumusnya jelas. Perangkat yang diperlukan antara lain kitab suci (bisa racikan dari semua kitab suci yang sudah ada plus sejumlah filosofi dan kreativitas pribadi; lalu diedit yang bagus). Perlu juga rumah ibadah dengan arsitektur yang khas. Pakaian resmi para petinggi, penetapan hari besar, pola ritual yang sederhana, penetapan sejumlah gelar (bagi ketua, wakilnya, para “capo”, dan umat biasa), juga penting. Jadilah agama baru itu. Soal detail-detail dan apakah akan dianut orang, disusul kemudian. Yang penting: unsur-unsur utamanya sudah tersusun. Dengan semua pembakuan itu pun, yang bertindak selalu pendiri agama tetap punya prasmanannya sendiri, yang sedikit-banyak berbeda racikannya dari menu para pengikutnya. Masalahnya: kebanyakan orang tak berani -karena merasa tak mampu dsb- membuat racikan sendiri yang sesuai selera spiritual masing-masing. Bagi mereka, ini a highly risky business, karena menyangkut keselamatan dunia-akhirat, kesesuaian dengan norma sosial, dan sebagainya. Tapi, karena selalu tersedia pasar yang dahaga spiritualitas, para makelar agama (penghubung individu dengan Tuhan) akan terus ada. Begitulah kesimpulan Norris & Inglehart itu. Para makelar inilah yang terus memupuk kepercayaan bahwa manusia, apalagi yang bodoh dan miskin, tak akan sanggup berhubungan sendiri dengan Tuhan. Dalam kasus Katolik, mesin pemupuk dogma itu dilembagakan lewat gereja, struktur piramidal yang berpuncak di Vatikan. Islam mengklaim dan bangga sebagai agama yang tak kenal sistem kerahiban. Tapi, dalam praktik, para petinggi Islam kadang juga berpretensi serupa; merasa berhak (sekaligus wajib!) menerbitkan daftar do’s dan don’t’s bagi penganut Islam, tentu lewat otoritas kitab suci dan ajaran nabi. Namun, dalam kehidupan spiritual, selalu ada individu-individu yang menampik rekayasa spiritual seperti itu. Tapi, sejauh ini, mereka harus menyendok prasmanan agamanya sendiri secara diam-diam, sembunyi-sembunyi. Para nabi pun memulai karirnya dengan aksi subversif. Lama- lama, subversi mereka jadi versi, lalu terjadilah silang sengkarut -yang belum tentu mereka kehendaki- bahkan antara orang-orang yang mengaku pengikut nabi yang sama. Semuanya saya kira bersumber dari salah satu kebijaksanaan Tuhan yang tak kunjung saya pahami: mengapa Dia memberi petunjuk tentang kehidupan (sesuatu yang sangat penting agar kita menjalaninya dengan manusiawi) hanya pada satu orang di setiap masa dan tempat. Masalahnya mungkin jauh lebih sederhana kalau rahasia ajaran penting itu disampaikan di, misalnya, panggung pembukaan World Cup, ketika bermiliar manusia menyimaknya. Lalu semua penyimak pulang ke rumah masing-masing dengan lega, dengan keyakinan gamblang tentang apa yang nenar dan salah. Setelah itu, mereka bisa menyendok dengan damai santapan rohani hasil racikan pribadi prasmanan masing-masing -kalau memang mereka masih memerlukannya. Dengan begitu, mereka mustahil menganggap menu pribadinyalah yang paling nikmat dan sehat. Jumlah meja prasmanan memang akan sebanyak jumlah individu penganut agama itu. Proliferasi memang tak terhindar, bahkan setelah Ten Commandments diumumkan di pentas World Cup itu. Tapi, apa yang salah dengan jumlah prasmanan yang sangat besar itu? “Ada yang salah,” kata para broker dan public relation Tuhan. “Kalau itu terjadi, bukan hanya penghasilan kami yang terampas, tapi juga prestise, privilese, tangga sosial, juga tangga mobilitas vertikal kami.” Setidaknya begitulah implikasi dari kesimpulan studi Norris & Inglehart. CATATAN: Artikel ini dimuat di Jawa Pos, Jumat, 9 Februari 2007.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER

April 2008
S S R K J S M
    Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Arsip

RSS Buku Muslim

  • 為什麼喜歡線上賭博? 13 September 2017
    我常常在YOUTUBE裡觀看別人怎麼賭,技巧在哪,看久了真的會從裡面體會出精隨所在。 我就看別人賭。認識的賭徒還真是不少,什麼樣的賭法都有,但是大膽地說, 沒有一個可以長期贏錢,沒有一個方法可以長期(請注意是長期、長期)使用在某個一賠一的賭遊戲之中。 一賠一的遊戲都很難贏了,更別說是機會少於50%的高賠率賭戲了,有些遊戲是完全用虛擬幣,輸贏對真實沒影響,主要是抒發人類心理而已。 另一些是用真實貨幣去換成虛擬幣才能玩,贏了可以再把虛擬幣換回來成真實貨幣,這也是不錯的方式。 例如百家樂,吃角子老虎,21點,輪盤,撲克,牌九,骰寶,十三支,花旗骰等等,這些在手機上都能玩, 很重要的一點是要有時間觀念,我發現網上的高手和專家很少談及賭博的時間觀念。 有的只是不停的追求一些越來越高級的理論,數理化加五行八卦全都出來, 這 […]
    MuJiang
  • 牙齒的形狀與功用 13 September 2017
    人類的牙齒依生長時期可分為乳齒和恒齒兩種,一般人在出生後八個月左右會開始生長乳齒,當然快者也有人在四個月就長牙,慢者也有人在十七個月後才開始長,快慢因人而異,而通常二至三歲乳齒便可長齊,合計乳齒只有二十顆,由於孩童的上下顎尚未發達,體積尚小,所以乳齒的形狀皆不大。 隨著骨骼的發育成長,上下顎也會開始變大,此時光靠小顆的乳牙已難以咀嚼食物,因此,從上小學開始,乳齒便會開始脫落長出恒齒,大約到了十至十一歲左右,乳齒都會換為恒齒,恒齒比乳齒堅固,且不會再更換。 我們出生時沒有牙齒,約6至7個月左右開始長牙,約2歲半時長出所有乳齒。6歲至12歲期間,牙齒開始「大換班」,為什麼牙齒長出來後,要更換呢? 為什麼會有恆齒? 我們首次長出的牙齒叫乳齒,乳齒體積既小,亦不耐磨,共20顆。從6歲起乳齒一顆顆脫落,一般在12歲左右所 […]
    MuJiang
  • 線上賭博運作方式 18 Agustus 2017
      關於賭博的說明為有些線上賭博在國外是合法沒錯,在敏感的國家當中不定是合法的。避免有人接收到傳票,表示對方根本沒有做風險控管。 線上賭博網站都會有個特性: 1.大多都架設在國外。 2.沒有具體的營業地點。 3.現金交付都是由第三方團體。 舉例:假設有個A網站的使用的是點數,一點B網站賣1元,使用者要買點數才可以進A網站賭博而且A網站不直接換錢,換錢要找B網站換。 (簡單來說,就像是要夾娃娃就要先換代幣的意思) 而風險控管就是把線上賭博的機房設在國外,當要下注時就需要把錢匯到國外的銀行,贏了錢的話會再把這些賭金轉換成現金或點數。 而線上賭博並不是單純碰運氣而已,賭場老闆也不是單純碰機率。那麼又有什麼理由可以憑運氣打贏賭場呢,賭客相信的是運氣,賭場相信的是數學,而數學的風險可以打敗最有運氣的賭徒。 回到首頁。 T […]
    MuJiang
  • 使用VPN的優點 8 Agustus 2017
    相較於傳統的專線式網路連結,VPN架設的結構至少提供了下列的幾項特色: (1)  減低費用。VPN的架設在設備的使用量及廣域網路的頻寬使用上均較專線式的架構節省,所以能使企業網路的總成本降低。而在LAN-to-LAN的連結上,使用VPN將較專線式的架構成本節省2成至4成左右;而就遠端存取而言,VPN更能比直接撥接至企業內部的網路節省超過5成的成本。這麼看來VPN台灣能節省到很可觀的經濟效益。 (2) 網路的架構彈性較大。VPN較專線式的架構來的比較有彈性,當有必要將變更網路架構時,VPN可以輕易的達成;相對的,傳統的專線式架構就太大費周章了。 (3) 管理上的方便。比較少的網路設備及實體線路,使網路的管理較為輕鬆; 所以不論分公司或是遠端存取用戶再多,均只需要透過連線的路徑進入企業網路。 (4)網路安全。為了保 […]
    MuJiang

RSS Pilihan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Roll

Rekomendasi

http://www.islamhouse.com http://muslim.or.id http://www.al-islam.com/ind/

Chat Room

%d blogger menyukai ini: