“Bermula dari Filsafat”

Tinggalkan komentar

11 Juni 2008 oleh fahirohim

Muhammad Hatta

Kalau dicermati lebih jauh, efek belajar filsafat memang menghasilkan sosok pribadi yang memiliki pemikiran yang dalam, jernih, rasional, sistematis, padat, dan lugas. Ia sekaligus membentuk karakter individu. Untuk Hatta sendiri kedalaman pikiran dan penalaran yang rasional tercermin jelas dalam tulisan-tulisannya di berbagai lapangan perhatian. Bahkan disetiap tulisannya itu Hatta tak lupa mengutip ungkapan-ungkapan filosof terkenal.

Melalui tulisan-tulisan di dalam dasawarsa 1920-an inilah gagasan-gagasan Bung Hatta dapat dibaca oleh pemuda pejuang di Tanah Air, termasuk oleh Bung Karno, yang merupakan tokoh pejuang muda di Tanah Air saat itu, sebelum mereka berkenalan langsung.

Ungkapan-ungkapan filosofis makin menambah kekuatan tulisan-tulisan Hatta terutama yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan. Dalam pidato pembelaannya di depan Pengadilan Den Haag, Belanda 1928, ungkapan ungkapan filosofis Hatta, antara lain yang sangat terkenal. “Lama-kelamaan tiap-tiap bangsa yang terjajah akan mengambil kembali kemerdekaannya, inilah suatu hukum besi sejarah dunia.

Pada bagian lain, Hatta juga mengutip sajak dari ahli pikir Perancis Rene de Clerque “Hanya satu tanah yang dapat disebut tanah airku. Ia berkembang dengan amal , dan amal itu adalah amalku.” Terhadap rekan-rekannya, Dalam soal pencarian kebenaran, Hatta mengatakan bahwa kebenaran itu tak pernah ada dua, melainkan hanya satu dalam setiap persoalan. Jika ia berada di sini tak mungkin ia akan berada di sana. Hatta memberikan kesempatan untuk bertanya bahkan untuk mendebatnya. Tetapi jika yang mendebat hanya ingin “menang” dalam suatu perdebatan dan meng-gunakan argumentasi-argumentasi yang sophistis, kontan ia akan mendapat “semburan”. “Kebenaran tidak dapat ditegakkan dengan silat kata-kata tetap harus dicari dan digali dengan segala kesungguhan agar dapat dipakai sebagai tuntutan hidup,” kata Hatta.

“Agama dan filsafat memperdalam kepercayaan dan memperluas perasaan agama. Membawa orang tunduk semata-mata dan cintanya kepada Tuhannya yang Maha Pengasih dan Maha Adil, yang menjadi pedoman dalam segala tindakan hidup. Dengan perasaan yang murni itulah baru orang sanggup memahamkan sedalam-dalamnya (umpamanya) isi surat al fatihah yang menjadi pokok ajaran agama Islam”.Hanya dengan demikianlah, kata Hatta, akan lahir ulama yang bisa menjadi pendidik yang sebenarnya dalam masyarakat.

“Menjadi tuan di negeri sendiri”

Sebagai proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta sepaham bahwa “mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah mencapai kehidupan yang cerdas bagi bangsa, artinya bukan sekedar cerdas otak, melainkan hidup yang cerdas alias bermartabat. Kaum intelegensia sekalipun, jika mudah diatur oleh kemauan kekuatan asing, tidak cerdas hidupnya.

Bagi Bung Hatta, kemandirian dalam ekonomi akan membuat bangsa kita tidak tunduk pada kekuatan asing. Menurut beliau, utang luar negeri haruslah merupakan pelengkap, bukan yang utama. Inilah yang sebaliknya terjadi di masa Orde Baru, sehingga utang luar negeri menumpuk tak terkendali. Semua ini terjadi karena para pengambil keputusan di bidang ekonomi kita, termasuk kaum intelegensianya, tidak memiliki karakter yang mementingkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan kelompok atau dirinya sendiri. Terjadinya kondisi yang berkonsekuensi pada krisis ekonomi berkepanjangan sejak tahun 1979 itu dilandasi oleh perasaan rendah diri kaum pengambil keputusan ekonomi itu terhadap kemauan pihak (donor) asing. Bung Hatta senantiasa memegang teguh “cita-cita menjadi tuan di negeri sendiri”, yang tercermin pula pada keluhan Bung Hatta kepada Mochtar Lubis. Bung Hatta, “… betapa lemahnya kita sekarang melindungi perdagangan dalam negeri kita, yang seharusnya berada dalam tangan bangsa Indonesia sendiri …”.

Sejalan dengan pikiran Bung Karno, sebagai pejuang nation and character building, Bung Hatta senantiasa menekankan batapa pentingnya “menjadi tuan di negeri sendiri”. Bung Hatta menilai amat penting suatu pembangunan karakter. Beliau berpandangan bahwa “mencari orang pandai lebih mudah daripada mencari orang yang berkarakter”. Tentu karakter yang dimaksud adalah yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi mau berkorban semi kemajuan bangsa dan negara serta tidak rendah diri.

[ Sumber : Bung-Hatta.Com ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

RSS Buku Muslim

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Pilihan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Roll

Rekomendasi

http://www.islamhouse.com http://muslim.or.id http://www.al-islam.com/ind/

Chat Room

Klik tertinggi

  • Tak ada
%d blogger menyukai ini: