EMAK NAIK HAJI : Menyiapkan Film Religi dengan Citarasa

1

21 April 2009 oleh fahirohim

 Film ini menggambarkan perjuangan orang kecil yang rindu naik haji.

Mak menundukkan kepala, merayapi daster batik kusam yang dipakainya. Tidak
lama, sebab satu pikiran mencerahkan wajah perempuan itu lagi.
“Masjidnya bagus di sono ya, Zen? Lampunya banyak,” Mak terkekah.
“Eh, berape sekarang ongkosnya, Zen?”
“ONH biasa atau plus, Mak?”
Mak tertawa. Beberapa giginya yang ompong terlihat.
“Kagak usah plus-plusan. Mak kagak ngerti.”
“Kalo kagak salah dua ribu tujuh ratusan.”
“Murah itu!”
Kali ini Zen tertawa.
“Pakai dolar itu, Mak. Kalau dirupiahin mah dua puluh tujuh jutaan.”
Suara riang Mak kontan meredup, “Dulu sih kita punya tanah. Tapi keburu dijual
waktu Bapak sakit.”
Beberapa
saat Mak hanya menghela napas panjang. Suaranya kemudian terdengar
seperti bisikan, “Mak pengin naik haji, Zen. Pengin.”

Begitulah sepenggal potongan cerpen karya Asma Nadia yang berjudul Emak Ingin
Naik Haji. Sebuah cerpen yang menggambar kesediahan seorang wanita tua (Emak) yang
tidak mampu mengumpulkan segepok uang bekal naik haji. Sementara
anaknya, Zein, merasa menjadi pecundang seumur hidup karena tidak bisa
mewujudkan mimpi Emaknya itu.

Karena kekuatan ceritanya itu, cerpen yang dibuat pada tahun 2007 ini lantas digubah ke skenario film
layar lebar oleh Aditya Gumay dan Adenin Adlan. Aditya pula yang
menyutradarainya. Didi Petet, Reza Rahardian (Zein), Aty Kanser (Emak),
Ustad Jeffri, dan Nini El Karim dipercaya sebagai pemain. Kini shooting sedang
dilakukan di Jakarta, dan akan berlanjut di Pelabuhan Ratu dan Mekkah.

Dari sudut pandang Asma, kisah Emak dalam cerpen tersebut merupakan salah
satu bentuk gambaran ketimpangan umat Islam Indonesia dalam melaksankan
rukun kelimanya. “Ada orang yang susah sekali naik haji tapi ada juga
orang yang berkali-kali naik haji,” ujarnya.

Karena permasalahan sosial itu, Asma sudah sejak lama menginginkan sebuah karya tulis yang
bertema haji. Lama keinginan itu terpendam hingga pada tahun 2007
Majalah Nur memintanya menulis sebuah cerpen tentang haji.

Permintaan itu datang sekitar satu bulan sebelum Asma benar-benar naik haji. Dia
diberikan waktu lima hari untuk menyelesaikan cerpen tersebut. Namun,
karena merasa kurang cocok dengan hasil yang dia buat, Asma meminta
tambahan waktu lagi.

Segala upaya dia curahkan untuk membuat satu buah cerpen itu. Dia bahkan melakukan riset tentang cara-cara orang naik haji. Dia mendapatkan kenyataan bahwa ada tarif naik haji
dengan pelayanan biasa saja, tetapi ada pula yang dengan tarif sangat
mahal dan fasilitas yang luar biasa.

Pengalaman

Bagi sebagian orang, naik haji bukan masalah besar, tapi ada sebagian orang
yang harus bersusah payah mengumpulkan uang untuk naik haji. Pengalaman
inilah yang juga dirasakan Asma ketika menetapkan hati untuk
melaksanakan rukun Islam yang kelima itu.

Pada awalnya dia hendak naik haji sendiri, namun sang suami kemudian terdorong untuk
ikut naik haji. Tapi, uang yang mereka miliki belum cukup. Asma bahkan
sempat menawarkan bantuan kepada biro perjalanan haji untuk membuatkan leaflet,
brosur atau foto-foto cantik asalkan dia bisa mendapatkan potongan harga untuk
naik haji.

Namun, biaya naik haji makin membumbung tinggi sehingga sulit untuk dijangkau.
“Tapi berkat Allah saya dan suami bisa juga naik haji sampai suami
bilang kita kira haji itu kita yang bayar tapi ternyata Allah yang
bayar. Pokoknya nabung dan diniatin untuk haji meski cuma seribu perak
per hari,” ungkapnya.

Ketika sedang berada di tanah suci Asma juga menyaksikan bahwa cerpen yang dia buat itu bisa sangat
menggambarkan perjuangan orang-orang yang merindukan naik haji. Asma
bertemu dengan sepasang kakek nenek yang usianya sudah mendekati 80
tahun. Mereka sudah berada di tanah suci sejak bulan Ramadhan.

Untuk bertahan hingga bulan haji mereka memasang tenda kecil sekadar untuk
berteduh. Mereka berangkat dengan usaha sendiri tanpa menggunakan paket
ONH karena tidak bisa menunggu lagi, karena sudah uzur.

Aditya Gumay sang sutradara merasa bahwa fenomena yang terjadi tentang haji
ini dialami banyak orang sehingga patut untuk diangkat dalam sebuah
film. Saat ini tim produksi sedang sibuk melakukan shooting di beberapa
wilayah di Jakarta dan sekitar pulau Jawa. rosyid nurul hakim

Persiapan yang Unik

Sebelum Aditya Gumay mendapatkan izin dari Asma Nadia untuk mengangkat cerpen
Emak Ingin Naik Haji ke layar lebar, dia sudah melakukan persiapan, penulisan
skenario dan pembelian properti.

Keyakinan Aditya itu berawal ketika pertama kali membaca cerpen itu pada
pertenghan tahun 2008. Saat menghadiri acara perpisahan TK Al Ahzar di
Taman Mini, dia mendapat sebuah goody bag berisi majalah-majalah lama. Salah
satunya adalah Nur terbitan Desember 2007.

Saat membuka-buka majalah itu, matanya terpaut pada cerpen tersebut. Ketika
selesai membacanya, hatinya tersentuh. “Saya bahkan sudah mendapatkan passion,
keharuan dan sentuhannya untuk diangkat dalam bentuk film,” ujarnya.

Dalam benaknya dia membayangkan perjuangan seorang anak untuk membahagiakan
emaknya. Banyak sekali orang yang ingin menghajikan orang tuanya, tapi
tidak memiliki dana. “Film ini mewakili begitu banyak impian anak yang
ingin membahagiakan orang tuanya,” jelasnya.

Karena sudah mendapat gambaran utuh tentang film yang bakal dibuatnya itu, Aditya
berani membeli berbagai properti yang cocok ketika dia dan ibunya umroh
pada Agustus 2008 lalu. “Padahal waktu itu saya belum ketemu Asma,”
katanya.

Selain itu, pada bulan desember 2008 dia sudah menggarap skenario film ini
bersama dengan Adenin Adlan.

Jauh hari sebelumnya, Aditya sebenarnya sudah berusaha mencari nomor telepon
sang penulis. Tetapi ketika nomor itu baru saja didapatkan, ternyata handphone
Asma Nadia hilang sehingga nomor itu menjadi tidak berguna.

Enam bulan kemudian, dari seorang rekan, dia mendapatkan nomor kontak sang
penulis. Mereka akhirnya bertemu setelah skenario dan beberapa
persiapan awal untuk pembuatan film sudah selesai. “Saya bahkan
langsung ditodong kontrak kerja padahal baru ketemu,” ujar Asma Nadia.
kim

Shooting Penuh Kemudahan

Ketika memulai shooting, Asma merasakan semangat dari setiap kru dalam tim
produksi Emak Ingin Naik Haji. Mereka merasa mendapatkan jiwa yang berbeda
ketika menggarap film ini. “Ada semacam syiar di dalamnya,” ujarnya.

Bagi Aditya, shooting yang masih berjalan ini banyak mendapatkan kemudahan.
Salah satunya ketika kru kesulitan untuk mendapatakan lokasi shooting
yang bisa menggambarkan keadaan yang sesuai dengan cerita. Sebuah rumah
kumuh milik Emak yang bersebelahan dengan rumah mewah tempat sang
juragan haji.

Berhari-hari lokasi itu dicari namun sulit untuk
dtemukan. “Karena umumnya rumah orang kaya di komplek elit, sedangkan
rumah orang miskin di tempat kumuh. Jadi cukup sulit mendapatkan lokasi
yang pas,” ujarnya.

Kemudahan tiba-tiba saja muncul ketika seorang temannya menawarkan rumah besar dan rumah kontrakan miliknya. Rumah kontrakan kecil berderet mirip bedengan itu tepat berhadapan
dengan rumah besar sehingga bisa menjadi lokasi yang cocok. Seketika,
kru langsung bergerak untuk mendandani rumah kontrakan itu agar semirip
mungkin dengan gambaran dalam cerpen.

Rumah kontrakan yang sebelumnya berdinding tembok dan berlantai keramik, dipermak sedemikan
rupa sehingga menjadi kawasan kumuh. Aditya bersama kru artistik banyak
berburu barang-barang bekas sebagai pengisi rumah Emak.

Selain itu, dia juga mencari kayu-kayu bekas untuk menutup semua tembok serta
mengganti ubin keramik. “Soalnya kita mau membuat rumah ini terlihat
kumuh dan menjadi bangunan kayu,” ujarnya.

Aditya mengharapkan semua kemudahan itu akan terus terjadi dalam proses shooting
yang dijadwalkan selama 20 hari — 15 hari di jakarta, satu hari di
Pelabuhan Ratu, dan sisanya di Mekkah. “Di Mekkah kita mau mengambil
montase perjalan emak yang akhirnya terwujud. Kita bakal berangkat saat
umroh. Kita ingin mendapat gambar orang saat sholat yang mengerumini
Kabah,” ujarnya.

Selama lima hari shooting di tanah suci itu, Aditya sudah memperhitungkan segala situasi termasuk bawaan peralatan pengambilan gambar yang diusahakan tidak terlalu banyak dan juga
masalah perizinan.

Hal Unik dalam Film

– Skenario film ini sudah jadi sebelum meminta izin dari sang penulis cerpen,
Asma Nadia.
– Cerita dalam cerpen Emak Ingin Naik Haji berbeda dari biasanya. Dengan jumlah
halaman yang sedikit cerpen ini bersifat multi tokoh dan multi konflik..
– Asma terinspirasi model penceritaan itu seusai menonton film Babel yang
diperankan Brad Pitt, yang berisi banyak tokoh dan cerita namun akhirnya saling
berhubungan.
– Ada kejadian yang tidak dapat dilupakan Asma ketika shooting di sebuah rumah
sakit. Sebuah sejadah kecil yang digunakan untuk sholat ditempeli tulisan Batas
Suci agar orang-orang tidak sembarangan lewat.

Teknologi yang digunakan lebih murah tetapi kualitas yang dihasilkan
bisa maksimal. Tim produksi hanya menggunakan kamera digital. kim (-)

One thought on “EMAK NAIK HAJI : Menyiapkan Film Religi dengan Citarasa

  1. mela mengatakan:

    jadi pengen nonton filmnya…
    Thanx ulasannya bro..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER

April 2009
S S R K J S M
« Des   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip

RSS Buku Muslim

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Pilihan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Roll

Rekomendasi

http://www.islamhouse.com http://muslim.or.id http://www.al-islam.com/ind/

Chat Room

Klik tertinggi

  • Tak ada
%d blogger menyukai ini: